Minggu, 28 Desember 2025

 

Merajut Simpul Mata Kuliah Kewargaan: Refleksi Perancangan Projek Pembelajaran di Sekolah Dasar dengan Judul Program “Kotak Aksi Baik”.

 

Oleh:

Nur Nazwa Sri Rizki

NIM: 2407781

 

Mata kuliah Literasi Kewargaan telah membuka cakrawala baru bagi saya mengenai makna menjadi warga negara yang aktif di era kekinian. Selama saya mengikuti mata kuliah ini di Prodi PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia banyak hal-hal baru yang saya pahami. Bukan sekadar memahami hak dan kewajiban secara normatif, namun bagaimana kita mampu berkontribusi melalui aksi nyata. Sebagai bagian dari tugas akhir perkuliahan saya ditugaskan untuk membuat essai terkait dengan projek yang dikaitkan dengan hasil wawancara terhadap 5 orang narasumber. Esai ini merupakan refleksi atas proses perencanaan tersebut, yang diperkaya melalui hasil wawancara mendalam dengan berbagai pemangku kepentingan yang mewakili keberagaman gender, profesi guru, generasi, serta orangtua. Program kotak aksi baik yang merupakan sebuah kegiatan sederhana namun bermakna yang bertujuan menumbuhkan kebiasaan refleksi diri serta membantu siswa mengenali tindakan positif yang mereka lakukan setiap hari, melalui kegiatan ini siswa belajar bahwa perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari seperti membantu teman, menjaga kebersihan atau mengucap salam adalah bagian penting dari sikap keluargaan dan hidup bersama secara harmonis. Guru menyiapkan sebuah kotak kecil berlabel baiku hari ini yang diletakkan di kelas setiap hari siswa menuliskan satu tindakan baik yang telah mereka lakukan pada secarik kertas kemudian memasukkannya ke dalam kotak. Pada akhir minggu guru membuka kotak tersebut dan membacakan beberapa catatan tindakan baik sebagai bentuk apresiasi dan motivasi agar siswa terus melakukan kebaikan. Kegiatan ini tidak hanya menembuhkan kebiasaan perilaku baik, tetapi juga membantu siswa belajar menghargai diri sendiri dan orang lain. serta membangun budaya kelas yang positif, tujuan kegiatannya itu yang pertama menumbuhkan kebiasaan refleksi diri pada siswa, membiasakan siswa untuk mengenali dan menghargai tindakan positif dalam kehidupan sehari-hari, mengembangkan sikap keluargaan seperti kepedulian sosial, kedisiplinan dan kerja sama, menciptakan suasana kelas yang positif, saling menghargai dan penuh apresiasi.

Proses reflektif ini mengajarkan saya bahwa merancang sebuah projek pembelajaran di Sekolah Dasar memerlukan kerendahan hati untuk mendengar. Pengalaman kuliah Literasi Kewargaan telah membekali saya dengan teori, namun narasumber di lapanganlah yang memberikan warna yang signifikan pada rancanagan projek tersebut.

Langkah awal saya dimulai dengan berdiskusi bersama orang tua. Dari sudut pandang ini orangtua memandang secara positif rancangan program yang akan kami laksanakan. Refleksi dari wawancara ini meyakinkan saya bahwa "Kotak Aksi Baik" harus melibatkan apresiasi yang nantinya bisa disampaikan kembali ke orang tua, sehingga tercipta jembatan komunikasi yang positif antara sekolah dan rumah.

Selanjutnya, perspektif dari guru memberikan landasan pedagogis yang kuat. Guru yang saya wawancarai mengingatkan bahwa kebaikan tidak boleh menjadi beban atau sekadar kompetensi formal. Beliau menekankan pentingnya kejujuran dalam mengisi kotak tersebut. Dari sini, saya merefleksikan bahwa projek ini harus didasari pada "intrinsik motivasi", bukan sekadar mengejar poin atau hadiah. Guru juga menyarankan agar program tersebut dijalankan secara konsisten.

Tantangan menarik muncul saat berdiskusi dengan perwakilan Generasi Z. Sebagai generasi yang akrab dengan teknologi mereka menyarankan agar aksi baik ini tidak hanya berbentuk kertas di dalam kotak fisik, tetapi juga bisa dibagikan melalui platform digital atau media sosial sekolah sebagai bentuk kampanye positif.

Sebagai simpulan, projek "Kotak Aksi Baik" adalah hasil kolaborasi dari berbagai suara. Ia adalah gabungan antara kasih sayang orang tua, bimbingan guru, dukungan institusi, kreativitas generasi muda, dan idealisme akademik. Melalui projek ini, saya berharap siswa tidak hanya belajar menjadi pintar secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional dan spiritual. Refleksi ini mengajarkan saya bahwa merancang sebuah program bukan hanya soal teknis, melainkan soal memahami manusia dan lingkungan tempat nilai-nilai tersebut akan disemaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar