Merajut Simpul Mata Kuliah Kewargaan:
Refleksi Perancangan Projek Pembelajaran di Sekolah Dasar dengan Judul Program “Kotak
Aksi Baik”.
Oleh:
Nur
Nazwa Sri Rizki
NIM: 2407781
Mata kuliah Literasi
Kewargaan telah membuka cakrawala baru bagi saya mengenai makna menjadi warga
negara yang aktif di era kekinian. Selama saya mengikuti mata kuliah ini di Prodi
PGSD Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia banyak hal-hal
baru yang saya pahami. Bukan sekadar memahami hak dan kewajiban secara normatif,
namun bagaimana kita mampu berkontribusi melalui aksi nyata. Sebagai bagian
dari tugas akhir perkuliahan saya ditugaskan untuk membuat essai terkait dengan
projek yang dikaitkan dengan hasil wawancara terhadap 5 orang narasumber. Esai
ini merupakan refleksi atas proses perencanaan tersebut, yang diperkaya melalui
hasil wawancara mendalam dengan berbagai pemangku kepentingan yang mewakili
keberagaman gender, profesi guru, generasi, serta orangtua. Program kotak aksi baik yang merupakan sebuah
kegiatan sederhana
namun bermakna yang bertujuan menumbuhkan
kebiasaan refleksi diri
serta membantu siswa mengenali tindakan
positif yang mereka lakukan setiap hari, melalui kegiatan ini siswa belajar bahwa perilaku baik dalam kehidupan sehari-hari seperti
membantu teman,
menjaga kebersihan atau mengucap salam adalah
bagian penting dari sikap keluargaan dan hidup
bersama secara harmonis.
Guru menyiapkan sebuah kotak kecil berlabel
baiku hari ini yang
diletakkan di kelas setiap hari siswa
menuliskan satu tindakan baik yang telah mereka
lakukan pada secarik kertas kemudian memasukkannya ke dalam kotak. Pada akhir minggu guru membuka kotak tersebut
dan membacakan beberapa catatan tindakan baik sebagai
bentuk apresiasi dan motivasi agar siswa terus melakukan kebaikan. Kegiatan ini tidak hanya menembuhkan kebiasaan
perilaku baik,
tetapi juga membantu siswa belajar menghargai
diri sendiri dan orang lain. serta membangun budaya
kelas yang positif,
tujuan kegiatannya itu yang pertama
menumbuhkan kebiasaan refleksi diri pada siswa, membiasakan siswa untuk mengenali dan menghargai tindakan positif dalam kehidupan
sehari-hari,
mengembangkan sikap keluargaan seperti kepedulian
sosial, kedisiplinan dan kerja sama, menciptakan
suasana kelas yang positif, saling menghargai dan
penuh apresiasi.
Proses reflektif ini
mengajarkan saya bahwa merancang sebuah projek pembelajaran di Sekolah Dasar
memerlukan kerendahan hati untuk mendengar. Pengalaman kuliah Literasi
Kewargaan telah membekali saya dengan teori, namun narasumber di lapanganlah
yang memberikan warna yang signifikan pada rancanagan projek tersebut.
Langkah
awal saya dimulai dengan berdiskusi bersama orang tua. Dari sudut pandang ini orangtua memandang
secara positif rancangan program yang akan kami laksanakan. Refleksi dari
wawancara ini meyakinkan saya bahwa "Kotak Aksi Baik" harus
melibatkan apresiasi yang nantinya bisa disampaikan kembali ke orang tua,
sehingga tercipta jembatan komunikasi yang positif antara sekolah dan rumah.
Selanjutnya,
perspektif dari guru memberikan landasan pedagogis yang kuat. Guru yang saya wawancarai
mengingatkan bahwa kebaikan tidak boleh menjadi beban atau sekadar kompetensi
formal. Beliau menekankan pentingnya kejujuran dalam mengisi kotak tersebut.
Dari sini, saya merefleksikan bahwa projek ini harus didasari pada
"intrinsik motivasi", bukan sekadar mengejar poin atau hadiah. Guru juga
menyarankan agar program tersebut dijalankan secara konsisten.
Tantangan
menarik muncul saat berdiskusi dengan perwakilan Generasi Z. Sebagai generasi
yang akrab dengan teknologi mereka menyarankan agar aksi baik ini tidak hanya
berbentuk kertas di dalam kotak fisik, tetapi juga bisa dibagikan melalui
platform digital atau media sosial sekolah sebagai bentuk kampanye positif.
Sebagai
simpulan, projek "Kotak Aksi Baik" adalah hasil kolaborasi dari
berbagai suara. Ia adalah gabungan antara kasih sayang orang tua, bimbingan
guru, dukungan institusi, kreativitas generasi muda, dan idealisme akademik.
Melalui projek ini, saya berharap siswa tidak hanya belajar menjadi pintar
secara intelektual, tetapi juga cerdas secara emosional dan spiritual. Refleksi
ini mengajarkan saya bahwa merancang sebuah program bukan hanya soal teknis,
melainkan soal memahami manusia dan lingkungan tempat nilai-nilai tersebut akan
disemaikan.










